Jumat, 27 April 2018

Komunitas posyandu, desa siaga, poskesdes

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS TENTANG DESA SIAGA, POLINDES DAN POSYANDU















Disusun Oleh :
Ika Setiawati Wahyu Romadhoni
20160661003
Program Studi D3 Kebidanan
Fakultas Ilmu Kesehatan
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta. Apapun peran yang dimainkan oleh pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dapat dicapai. Perilaku yang sehat dan kemampuan masyarakat untuk memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan. Oleh karena itu, salah satu upaya kesehatan pokok atau misi sektor kesehatan adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
Untuk mencapai upaya tersebut Departemen Kesehatan RI menetapkan visi pembangunan kesehatan yaitu “Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. Strategi yang dikembangkan adalah menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, berupa memfasilitasi percepatan dan pencapaian derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi seluruh penduduk dengan mengembangkan kesiap-siagaan di tingkat desa yang disebut dengan Desa Siaga.
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan secara mandiri. Pada intinya, desa siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat. Untuk dapat danmampu hidup sehat, masyarakat perlu mengetahui masalah-masalah dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatannya, bak sebagai individu, keluarga, ataupun sebagai bagian dari anggota masyarakat.
Beberapa determinan yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat adalah keturunan (heredity), keadaan gizi, gaya hidup, akses pelayanan kesehatan dan lingkungan fisik dan nonfisik. Heredity memegang peran dalam penentuan sifat dan karakteristik fisiologis seorang individu, seperti postur tubuh, warna kulit dan golongan darah. Lingkungan fisik meliputi lingkungan yang ada di sekitar manusia, seperti udara yang kita hirup, darat dan laut sebagai sumber kehidupan, termasuk rumah dan fasilitasnya serta ketersediaan pelayanan umum (air bersih, listrik dan jalan raya). Sedangkan faktor budaya akan mempengaruhi sikap masyarakat terhadap hidup sehat dan kesehatan secara keseluruhan.
Seiring dengan program Desa Siaga yang dicanangkan oleh Departemen Kesehatan RI, pendidikan dan profesi keperawatan telah menerapkan standar perawatan komunitas yang mencakup berbagai unsur dan komponen seperti yang ada pada konsep Desa Siaga. Perawatan kesehatan masyarakat diterapkan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan populasi dimanaprakteknya tersebut bersifat umum dan komprehensif yang ditujukan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang memiliki kontribusi bagi kesehatan, pendidikan kesehatan dan manajemen serta koordinasi dan kontinuitas pelayanan holistik. Masalah kesehatan masyarakat dapat bermula dari perilaku individu, keluarga, kelompok dan masyarakat diantaranya berkaitan dengan masalah kesehatan lingkungan, kesehatan ibu anak, kesehatan remaja serta kesehatan lanjut usia (lansia),maupun pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan yang masih sangat rendah seperti pemeriksaan kesehatan, kehamilan, imunisasi, posyandu dan lain sebagainya.
Salah satu upaya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian anak balita adalah dengan melakukan pemeliharaan kesehatannya. Pemeliharaan kesehatan anak balita dititik beratkan kepada upaya pencegah an dan peningkatan kesehatan dan pada pengobatan dan rehabilitasi.Pelayanan kesehatan anak balita ini dapat dilakukan dipuskesmas, puskesmas pembantu, polindes,desa siaga terutama di posyandu.
Saat ini posyandu sangat primadona. Pemerintah Indonesia dengan kebijakan Kepmenkes mengupayakan untuk mengaktifkan kembali kegiatan di posyandu, karena posyandulah tempat paling cocok untuk memberikan pelayanan kesehatan pada balita secara menyeluruh dan terpadu. Oleh karena itu disini kami membahas tentang Posyandu dan Polindes Tujuannya agar angka KIA di Indonesia dapat ditingkatkan.

1.2. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum :
Mahasiswa mampu mengetahui tentang komunitas dilingkungan sekitarnya terutama tentang pemberdayaan kesehatan desa siaga, polindes, dan posyandu
2. Tujuan Khusus :
a. Mahasiswa mampu memahami pengertian desa siaga, polindes dan posyandu.
b. Mahasiswa mampu memahami tujuan desa siaga, polindes dan posyandu.
c. Mahasiswa mampu memahami kegiatan desa siaga, polindes dan posyandu.
d. Mahasiswa mampu mengetahui sasaran desa siaga, polindes dan posyandu..
e. Mahasiswa mampu mengetahui syarat terbentuknya desa siaga, polindes dan posyandu
1.3. Manfaat
1. Manfaat teoritis
Memberikan tambahan tentang Asuhan Kebidanan komunitas Desa Siaga, Polindes dan Posyandu, serta sebagai pengembangan ilmu pengetahuan tentang  Asuhan Kebidanan komunitas Desa Siaga, Polindes dan Posyandu.
2. Manfaat Praktis
Bidan mampu mengetahui dan memahami Asuhan Kebidanan Komunitas tentang Desa Siaga, Polindes dan Posyandu, serta diharapkan bidan dapat memberikan Asuhan Kebidanan komunitas Desa Siaga, Polindes dan Posyandu.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Posyandu
2.1.1. Pengertian
Posyandu adalah suatu forum komunikasi, alih tehnologi dan pelayanan kesehatan masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.(Ambarwati Retna, 2009)
Pengertian posyandu adalah sistem pelayanan yang dipadukan antara satu program dengan program lainnya yang merupakan forum komunikasi pelayanan terpadu dan dinamis seperti halnya program KB dengan kesehatan atau berbagai program lainnya yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat (BKKBN, 1989).
Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu , hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat karena di posyandu tersebut masyarakat dapat memperolah pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang sama (Depkes RI, 1990).
Posyandu dipandang sangat bermanfaat bagi masyarakat namun keberadaannya di masyarakat kurang berjalan dengan baik, oleh karena itu pemerintah mengadakan revitalisasi posyandu. Revitalisasi posyandu merupakan upaya pemberdayaan posyandu untuk mengurangi dampak dari krisis ekonomi terhadap penurunan status gizi dan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam menunjang upaya mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak melalui peningkatan kemampuan kader, manajemen dan fungsi posyandu (Depdagri, 1999).
Kegiatan revitalisasi posyandu pada dasarnya meliputi seluruh posyandu dengan perhatian utamanya pada posyandu yang sudah tidak aktif/rendah stratanya (pratama dan madya) sesuai kebutuhan, posyandu yang berada di daerah yang sebagian besar penduduknya tergolong miskin, serta adanya dukungan materi dan non materi dari tokoh masyarakat setempat dalam menunjang pelaksanaan kegiatan posyandu. Dukungan masyarakat sangat penting karena komitmen dan dukungan mereka sangat menentukan keberhasilan dan kesinambungan kegiatan posyandu (Depkes RI, 1999).
Kontribusi posyandu dalam meningkatkan kesehatan bayi dan anak balita sangat besar, namun sampai saat ini kualitas pelayanan posyandu masih perlu ditingkatkan. Keberadaan kader dan sarana yang ada merupakan modal dalam keberlanjutan posyandu. Oleh karena itu keberadaan posyandu harus terus ditingkatkan sehingga diklasifikasikan menjadi 4 jenis yaitu posyandu pratama, madya, purnama, dan mandiri.
2.1.2. Tujuan Posyandu
1. Menurunkan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR
3. Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil sehat dan sejahtera.
4. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan
5. Kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan
6. Hidup sehat.
7. Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
8. Dalam usaha meningkatkan cakupan penduduk dan geografis
9. Peningkatan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih
10. Teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.

2.1.3. Kegiatan Posyandu
Beberapa kegiatan diposyandu diantaranya terdiri dari lima kegiatan Posyandu (Panca Krida Posyandu), antara lain:
1. Kesehatan Ibu dan Anak
a. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, melahirkan dan menyusui, serta bayi,anak balita dan anak prasekolah
b. Memberikan nasehat tentang makanan guna mancegah gizi buruk karena kekurangan protein dan kalori, serta bila ada pemberian makanan tambahanvitamin dan mineral
c. Pemberian nasehat tentang perkembangan anak dan cara stimilasiny
d. Penyuluhan kesehatan meliputi berbagai aspek dalam mencapai tujuan program KIA.
2. Keluarga Berencana
a. Pelayanan keluarga berencana kepada pasangan usia subur dengan perhatian khusus kepada mereka yang dalam keadaan bahaya karena melahirkan anak berkali-kali dan golongan ibu beresiko tinggi
b. Cara-cara penggunaan pil, kondom dan sebagainya
3. Immunisasi
Imunisasi tetanus toksoid 2 kali pada ibu hamil dan BCG, DPT 3x,polio 3x, dan campak 1x pada bayi.
4. Peningkatan gizi
a. Memberikan pendidikan gizi kepada masyarakat
b. Memberikan makanan tambahan yang mengandung protein dan kalori cukup kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun dan kepada ibu yang menyusui.
c. Memberikan kapsul vitamin A kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun.
5. Penanggulangan Diare
Lima kegiatan Posyandu selanjutnya dikembangkan menjadi tujuh kegiatan Posyandu (Sapta Krida Posyandu), yaitu:
1. Kesehatan Ibu dan Anak
2. Keluarga Berencana
3. Immunisasi
4. Peningkatan gizi
5. Penanggulangan Diare
6. Sanitasi dasar Cara-cara pengadaan air bersih, pembuangan kotoran dan air limbah yang benar, pengolahan makanan dan minuman.
7. Penyediaan Obat essensial
2.1.4. Sasaran Posyandu
1. Bayi berusia kurang dari 1 tahun
2. Anak balita usia 1 sampai dengan 5 tahun
3. Ibu hamil
4. Ibu menyusui
5. Ibu nifas
6. Wanita usia subur.
2.1.5. Pengelola Posyandu
1. Penanggungjawab umum : Kades/Lurah
2. Penggungjawab operasional : Tokoh Masyarakat
3. Ketua Pelaksana : Ketua Tim Penggerak PKK
4. Sekretaris : Ketua Pokja IV Kelurahan/desa
5. Pelaksana : Kader PKK, yang dibantu Petugas KBKes (Puskesmas).
2.1.6. Pembentukan Posyandu
1. Langkah – langkah pembentukan :
a. Pertemuan lintas program dan lintas sektoral tingkat kecamatan.
b. Survey mawas diri yang dilaksanakan oleh kader PKK di bawah bimbingan teknis unsur kesehatan dan KB .
c. Musyawarah masyarakat desa membicarakan hasil survey mawas diri, sarana dan prasarana posyandu, biaya posyandu
d. Pemilihan kader Posyandu.
e. Pelatihan kader Posyandu.
f. Pembinaan.
2. Kriteria pembentukan Posyandu
Pembentukan Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai sedangkan satu Posyandu melayani 100 balita.


3. Kriteria kader Posyandu
Dapat membaca dan menulis.
Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan.
Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan masyarakat.
Mempunyai waktu yang cukup.
Bertempat tinggal di wilayah Posyandu.
Berpenampilan ramah dan simpatik.
Diterima masyarakat setempat.
4. Pelaksanaan Kegiatan Posyandu.
Posyandu dilaksanakan sebulan sekali yang ditentukan oleh Kader, Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan serta petugas kesehatan dari Puskesmas, dilakukan pelayanan masyarakat dengan system 5 meja yaitu :
Meja I :
1. pendaftaran balita dan penyuluhan
a. Balita di daftar dalam formulir pencatatan balita
b. Bila anak sudah memiliki KMS, berarti bulan yang lalu anak sudah ditimbang. Minta KMS nya, namanya dicatat pada secarik kertas. Kertas diselipkan di KMS, kemudian ibu balita diminta membawa anaknya menuju tempat penimbangan.
c. Bila anak belum punya KMS, berarti baru bulan ini ikut penimbangan atau KMS lamnaya hilang. Ambil KMS baru, kolomnya diisi secara lengkap, nama anak dicatat pada secarik kertas. Secarik kertas ini diselipkan di KMS, kemudian ibu balita diminta membawa anaknya ke tempat penimbangan.

2. Pendaftran ibu hamil
a. Ibu hamil di daftar dalam formulir catatan untuk ibu hamil.
b. Ibu hamik yang tidak membawa balita diminta langsung menuju ke meja 4 untuk mendapatkan pelayanan gizi oleh kader serta pelayanan oleh petugas di meja lima
c. Ibu yang belum menjadi peserta KB dicatat namanya pada secarik kertas,dan ibu menyerahkan kertas itu kepada petugas di meja lima.
Meja II:
1. Penimbangan anak dan balita, hasil penimbangan berat anak dicatat pada secarik kertas terselip di KMS. Selipkan kertas ini kembali kedalam KMS
2. Selesai di timbang,ibu dan anaknya dipersilahkan menuju meja tiga (meja pencacatan)
Meja III: pengisian KMS
1. Buka KMS balita yang bersangkutan
2. Pindahkan hasil penimbangan anak dari secarik kertas ke KMSnya
3. Pada penimbangan pertama, isilah semua kolom yang tersedia pada KMS
4. Bila ada kartu kelahiran, catatlah bulan lahir anak dari kartu tersebut
5. Bila tidak ada kartu kelahiran tetapi ibu ingat, catatlah bulan lahir anak sesuai ingatan ibunya
6. Bila ibu tidak ingat dan hanya tahu umur anaknya yang sekarang, perkiraan bulan lahir anak dan catat

Meja IV:
1. Penyuluhan untuk semua orang tua balita. Mintahlah KMS anak perhatikan umur dan hasil penimbangan pada bulan ini. Kemudian ibu balita diberi penyuluhan
2. Penyuluhan untuk umur semua ibu balita. Anjurkan juga agar ibu memeriksakan kehamilannya sebanyak lima kali selama kehamilan pada petugas kesehatan, bidan di desa atau dukun terlatih
3. Penyuluhan untuk semua ibu menyusui mengenai pentingnya ASI, kapsul iodium dan vitamin A

Meja V: pelayanan KB kesehatan
Imunisasi
Pemberian vitamin A. Tinggi berupa obat tetes ke mulut tiap bulan Februari dan Agustus.
Pembagian pil atau kondom
Pengobatan ringan
Konsultasi KB kesehatan

Petugas pada Meja I s/d IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan Meja V merupakan meja pelayanan paramedis (Jurim, Bindes, perawat dan petugasKB).




2.1.7. Peserta Posyandu mendapat pelayanan meliputi :
Kesehatan ibu dan anak :
Pemberian pil tambah darah (ibu hamil)
Pemberian vitamin A dosis tinggi ( bulan vitamin A pada bulan Februari dan Agustus)
PMT
Imunisasi
Penimbangan balita rutin perbulan sebagai pemantau kesehatan balita melalui pertambahan berat badan setiap bulan. Keberhasilan program terlihat melalui grafik pada kartu KMS setiap bulan.
Keluarga berencana, pembagian Pil KB dan Kondom.
Pemberian Oralit dan pengobatan.
Penyuluhan kesehatan lingkungan dan penyuluhan pribadi sesuai permasalahan dilaksanakan oleh kader PKK melalui meja IV dengan materi dasar dari KMS balita dan ibu hamil. Keberhasilan Posyandu tergambar melalui cakupan SKDN
S          : Semua baita diwilayah kerja Posyandu.
K         : Semua balita yang memiliki KMS.
D         : Balita yang ditimbang.
N         : Balita yang naik berat badannya.
Keberhasilan Posyandu berdasarkan :
·  D / S   : baik/kurangnya peran serta masyarakat
·  N / D   : Berhasil tidaknyaProgram posyandu

2.1.8. Dana
Dana pelaksanaan Posyandu berasal dari swadaya masyarakat melalui gotong royong dengan kegiatan jimpitan beras dan hasil potensi desa lainnya serta sumbangan dari donatur yang tidak mengikat yang dihimpunan melalui kegiatan Dana Sehat.
2.1.9. Lokasi dan Penyelenggaraan
Berada di tempat yang mudah didatangi masyarakat dan ditentukan oleh masyarakat seperti pos pelayanan yang sudah ada, rumah penduduk, balai kelurahan. Prioritas dibentuk ditempat yang rawan dibidang gizi, kesehatan lingkungan. Pelayanan KB  kesehatan direncanakan dan dikembangkan oleh kader bersama kepala desa/ lurah LKMD (seksi KB, kesehatan dan PKK), tokoh masyarakat, pemuda, dll dengan bimbingan tim pembinaan LKMD tingkat kecamatan.

2.1.10. Syarat terbentuknya Posyandu
Posyandu dibentuk dari pos-pos yang telah ada seperti:
1)Pospenimbanganbalita
2)Posimmunisasi
3)Poskeluargaberencanadesa
4)Poskesehatan
5)Poslainnyayangdibentukbaru
2.1.11. Alasan Pendirian Posyandu
Posyandu didirikan karena mempunyai beberapa alasan sebagai berikut:
1. Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatn khususnya dalam upaya pencegahan penyakit dan PPPK sekaligus dengan pelayanan KB.
2. Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana (Effendi, 1998).
Penyelenggara Posyandu
1. Pelaksana kegiatan, adalah anggota masyarakat yang telah dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan Puskesmas.
2. Pengelola posyandu, adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua RW yang berasal dari keder PKK, tokoh masyarakat formal dan informal serta kaderkesehatan yang ada di wilayah tersebut (Effendi, 1998).
Jenis Posyandu
Untuk meningkatkan kualitas dan kemandirian posyandu diperlukan intervensi sebagai berikut :
a. Posyandu pratama (warna merah)
Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang masih belum mantap, kegiatannya belum bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas. Keadaan ini dinilai ‘gawat’ sehingga intervensinya adalah pelatihan kader ulang. Artinya kader yang ada perlu ditambah dan dilakukan pelatihan dasar lagi.
b. Posyandu madya (warna kuning)
Posyandu pada tingkat madya sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih. Akan tetapi cakupan program utamanya (KB, KIA, Gizi, dan Imunisasi) masih rendah yaitu kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya.


Intervensi untuk posyandu madya ada 2 yaitu :
Pelatihan Toma dengan modul eskalasi posyandu yang sekarang sudah dilengkapi dengan metoda simulasi.
Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan MMD) untuk menentukan masalah dan mencari penyelesaiannya, termasuk menentukan program tambahan yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
c. Posyandu purnama (warna hijau)
Posyandu pada tingkat purnama adalah posyandu yang frekuensinya lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) lebih dari 50%. Sudah ada program tambahan, bahkan mungkin sudah ada Dana Sehat yang masih sederhana.
Intervensi pada posyandu di tingkat ini adalah :
Penggarapan dengan pendekatan PKMD untuk mengarahkan masyarakatmenetukan sendiri pengembangan program di posyandu.
Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh Dana Sehat yangkuat dengan cakupan anggota minimal 50% KK atau lebih.
d. Posyandu mandiri (warna biru)
Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur, cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program tambahan dan Dana Sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK. Intervensinya adalah pembinaan Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana Sehat tersebut menggunakan prinsip JPKM



2.2. POLINDES
2.2.1. Pengertian Polindes
Merupakan salah satu bentuk UKBM (Usaha Kesehatan Bagi Masyarakat) yang didirikan masyarakat oleh masyarakat atas dasar musyawarah, sebagai kelengkapan dari pembangunan masyarakat desa, untuk memberikan pelayanan KIA-KB serta pelayanan kesehatan lainnya sesuai dengan kemampuan Bidan. (Ambarwati retna,2009).
Suatu tempat yang didirikan oleh masyarakat atas dasar musyawarah sebagai kelengkapan dari pembangunan kesmas untuk memberikan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berencana (KB) dikelola oleh bidan desa (bides) bekerjasama dengan dukun bayi dibawah pengawasan dokter puskesmas setempat.
Pondok Bersalin Desa (Polindes) adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang merupakan wujud nyata bentuk peran serta masyarakat didalam menyediakan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak lainnya, termasuk KB di desa. (Dinkes, 1999)
2.2.2. Kajian makna polindes
a. Polindes merupakan salah satu bentuk PSM dalam menyediakan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan KIA, termasuk KB di desa.
b. Polindes dirintis di desa yang telah mempunyai bidan yang tinggal didesa tersebut.
c. PSM dalam pengembangan polindes dapat berupa penyediaan tempat untuk pelayanan KIA (khususnya pertolongan persalinan), pengelolaan polindes,penggerakan sasaran dan dukungan terhadap pelaksanaan tugas bidan di desa.
d. Peran bidan desa yang sudah dilengkapi oleh pemerintah dengan alat-alat yang diperlukan adalah memberikan pelayanan kebidanan kepada masyarakat di desa tersebut.
e. Polindes sebagai bentuk PSM secara organisatoris berada di bawah seksi 7 LKMD, namun secara teknis berada di bawah pembinaan dan pengawasan puskesmas.
f. Tempat yang disediakan oleh masyarakat untuk polindes dapat berupa ruang/kamar untuk pelayanan KIA, termasuk tempat pertolongan persalinan yang dilengkapi dengan sarana air bersih.
g. Tanggung jawab penyediaan dan pengelolaan tempat serta dukungan opersional berasal dari masyarakat, maka perlu diadakan kesepakatan antarawakil masyarakat melalui wadah LKMD dengan bidan desa tentang pengaturan biaya operasional dan tarif pertolongan persalinan dipolindes.
h. Dukun bayi dan kader posyandu adalah kader masyarakat yang paling terkait.
2.2.3. Unsur – unsur polindes
a. Adanya bidan di desa
b. Bangunan atau ruang untuk pelayanan KIA-KB dan pengobatan sederhana
c. Adanya partisipasi masyarakat



2.2.4. Fungsi polindes
a. Sebagai tempat pelayanan KIA-KB dan pelayanan kesehatan lainnya.
b. Sebagai tempat untuk melakukan kegiatan pembinaan, penyuluhan dan konseling KIA.
c. Pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat.
2.2.5 Tujuan Polindes
a. Meningkatnya jangkauan dan mutu pelayanan KIA-KB termasuk pertolongan dan penanganan pada kasus gagal.
b. Meningkatnya pembinaan dukun bayi dan kader kesehatan.
c.   Meningkatnya kesempatan untuk memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan bagi ibu dan keluarganya.
d. Meningkatnya pelayanan kesehatan lainnya sesuai dengan kewenangan bidan.
2.2.6 Kegiatan Polindes
a. Memeriksa kehamilan, termasuk memberikan imunisasi TT pada bumil dan mendeteksi dini resiko tinggi kehamilan.
b. Menolong persalinan normal dan persalinan dengan resiko sedang.
c. Memberikan pelayanan kesehatan ibu nifas dan ibu menyusui.
d. Memberikan pelayanan kesehatan neonatal, bayi, anak balita dan anak prasekolah, serta imunisasi dasar pada bayi.
e. Memberikan pelayanan KB.
f. Mendeteksi dan memberikan pertolongan pertama pada kehamilan dan
g. persalinan yang beresiko tinggi baik ibu maupun bayinya.
h. Menampung rujukan dari dukun bayi dan dari kader (posyandu, dasa wisma).
i. Merujuk kelainan ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu.
j. Melatih dan membina dukun bayi maupun kader (posyandu, dasa wisma).
k. Memberikan penyuluhan kesehatan tentang gizi ibu hamil dan anak serta peningkatan penggunaan ASI dan KB.
l. Mencatat serta melaporkan kegiatan yang dilaksanakan kepada puskesmas setempat.
2.2.7. Sasaran Polindes
a. Bayi berusia kurang dari 1 tahun
b. Anak balita usia 1 sampai dengan 5 tahun
c. Ibu hamil
d. Ibu menyusui
e. Ibu nifas
f. Wanita usia subur
g. Kader
h. Masyarakat setempat  
2.2.8. Sistem Rujukan Di Polindes
Sistem rujukan di polindes dapat dilakukan:
1. Ke puskesmas(kecamatan)
2. Rumah sakit tipe c/d(kabupaten)
3. Rumah sakit tipe b(propinsi)
4. Rumah sakit tipe A(pusat)
2.2.9. Syarat Terbentuknya Polindes
a. Tersedianya bidan di desa yang bekerja penuh untuk mengelola polindes.
b. Tersedianya sarana untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi Bidan, antara lain bidan kit, IUD kit, sarana imunisasi dasar dan imunisasi ibu hamil, timbangan, pengukur Tinggi Badan, Infus set dan cairan D 5 %, NaCl 0,9 %, obat – obatan sederhana dan uterotonika, buku-buku pedoman KIA, KB dan pedoman kesehatan lainnya, inkubator sederhana.
c. Memenuhi persyaratan rumah sehat, antara lain penyediaan air bersih, ventilasi cukup, penerangan cukup, tersedianya sarana pembuangan air limbah, lingkungan pekarangan bersih, ukuran mini9mal 3 x 4 m2.
d. Lokasi mudah dicapai dengan mudah oleh penduduk sekitarnya dan
e. mudah dijangkau oleh kendaraan roda 4.
f. Ada tempat untuk melakukan pertolongan persalinan dan perawatan
g. postpartum minimal 1 tempat tidur.
2.2.10. Kategori tingkat perkembangan polindes
1. Pratama
a. Fisik   : belum ada bangunan tetap, belum memenuhi syarat
b. Tempat tinggal bidan  : tidak tinggal di desa yang bersangkutan
c. Pengelolaan polindes  : tidak ada kesepakatan
d. Cakupan persalinan     : < 10%
e. Sarana air bersih          : tersedia air bersih, tapi dilengkapi sumber air dan MCK
f. Cakupan kemitraaan bidan dan dukun bayi   : < 25%
g. Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran          : < 6 %
h. Dana sehat / JPKM                                         : < 50 %
2. Madya
a. Fisik         : belum ada bangunan tetap, memenuhi syarat
b. Tempat tinggal bidan : > 3 km
c. Pengelolaan polindes  : ada, tidak tertulis
d. Cakupan persalinan     : 10 – 15 %
e. Sarana air bersih          : tersedia air bersih, belum ada sumber air ,tapi ada MCK
f. Cakupan kemitraaan bidan dan dukun bayi : 25 -49 %
g. Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran : 6 – 8 kali
h. Dana sehat / JPKM : < 50 %
3. Purnama
a. Fisik                       : ada bangunan tetap, belum memenuhi syarat
b. Tempat tinggal bidan  : 1 – 3 km
c. Pengelolaan polindes  : ada dan tertulis
d. Cakupan persalinan     : 20 – 29 %
e. Sarana air bersih          : tersedia air bersih, sumber air dan MCK
f. Cakupan kemitraaan bidan dan dukun bayi  : 50 – 74 %
g. Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran : 9 – 12 kali
h. Dana sehat / JPKM : < 50 %
4. Mandiri
a. Fisik                 : belum ada bangunan tetap, memenuhi syarat
b. Tempat tinggal bidan  : < 1 km
c. Pengelolaan polindes  : ada dan tertulis
d. Cakupan persalinan     : > 30%
e. Sarana air bersih          : tersedia air bersih, tapi dilengkapi sumber air dan MCK disertai SPAL
f. Cakupan kemitraaan bidan dan dukun bayi   : < 75 %
g. Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran : <  12 kali
h. Dana sehat / JPKM : e” 50 %
2.2.11. Prinsip-prinsip polindes
a. Merupakan bentuk UKBM di bidang KIA-KB
b. Polindes dapat dirintis didesa yang telah mempunyai bidan yang tinggal di desa
c. Memiliki tingkat peran serta masyarakat yang tinggal, berupa penyediaan tempat untuk pelayanan KIA, khususnya pertolongan persalinan, pengelolaan polindes, penggerakan sasaran dan dukungan terhadap pelaksanaan tugas bidan didesa.
d. Dalam pembangunan fisik polindes dapat berupa ruang/ kamar yang memenuhi persyaratan sehat, dilengkapi sarana air bersih, maupun peralatan minimal yang dibutuhkan
e. Kesepakatan dengan masyarakat dalam hal tanggung jawab
f. penyediaan dan pengelolaan tempat, dukungan operasional dan tarif
g. pelayanankesehatan dipolindes.
h. Menjalin kemitraan dengan dukun bayi.
i. Adanya polindes tidak berarti bidan hanya member pelayanan di
j. dalam gedung.
2.2.12. Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Polindes
Pencatatan dan pelaporan Polindes dilaksanakan seperti yang berlaku untuk praktik bidan secara perorangan yang terdapat pada pasal 27 Bab VII Permenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002Yaitu:
1. Dalam melakukan prakteknya bidan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan pelayanan yang diberiakan.
2. Pelaporan sebagaimana dimaksud ayat(1)dilaporkan kepuskesmas di tembusan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota stempel.

Pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat(1)tercantumdalam lampiran IV keputusan ini:
a. Dalam melaksanakan pelayanan kebidanan,bidan harusmelaksanakan pencatatan hasil pelayanan,baik berupa rakam medis kebidanan untuk setiap pasien maupun rekapitulasi hasil pelayanan sebagai dasar untuk pembuatan laporan.
b. Bidan setiap memberiakn pelayanan kebidanan harus sesuai peraturan yang berlaku:
Identitas pasien
Data kesehatan
Data persalinan
Data bayi yang dilahirkan (panjang badan dan berat badan)
Tindakan dan obat yang diberikan
c. Bidan sedapat mungkin memberikan kartu menujusehat(KMS) balita dan KMS ibu ibu hamil atau KIA,yang telah diisi dengan hasil pemerikasaan kepada setiap balita dan ibu hamil untuk dibawa pulang.
d. Pelaporan yang dilakukan dengan mengikuti ketentuan program pemerintah,khusus dalam pelayanan KIA dan KB,pelaporan ditujukan kepada puskesmas setempat,sebulan sekali.






3.1 Desa Siaga
3.1.1. Pengertian Desa Siaga
Desa siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa yang memiliki kemampuan dalam menemukan permasalahan yang ada, kemudian merencanakan & melakukan pemecahannya sesuai potensi yg dimilikinya, serta selalu siap siaga dalam menghadapi masalah kesehatan , bencana , dan kegawatdaruratan
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan(bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) secara mandiri. Desa siaga ini merupakan program pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Desa yang dimaksud dalam desa siaga adalah kelurahan / istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah, yang berwenang untukmengatur dan mengukur kepentingan masyarakat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan RI.
Desa Siaga adalah salah satu program Kementerian Kesehatan yang salah satu fokus kegiatannya adalah mengurangi angka kematian Ibu, dengan meningkatkan peran serta masyarakat setempat.
Desa siaga adalah upaya bersama masyarakat untuk mengatasi persoalan kesehatan khususnya kesehatan ibu dan anak.
Si  (siap) yaitu pendataan dan mengamati seluruh ibu hamil, siap mendampingi ibu, siap menjadi donor darah, siap memberi bantuan kendaraan untuk rujukan, siap membantu pendanaan, dan bidan wilayah kelurahan selalu siap memberi pelayanan.
A (antar), yaitu warga desa, bidan wilayah, dan komponen lainnya dengan cepat dan sigap mendampingi dan mengatur ibu yang akan melahirkan jika memerlukan tindakan gawat-darurat.
Ga (jaga), yaitu menjaga ibu pada saat dan setelah ibu melahirkan serta menjaga kesehatan bayi yang baru dilahirkan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa desa siaga adalah suatu keadaan dimana suatu desa memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengenal, menghadapi dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri baik bencana maupun kegawatdaruratan.
3.1.2. Tujuan Desa Siaga
Tujuan Umum : Terwujudnya desa dengan masyarakat yang sehat, peduli, dan tanggap terhadap masalah-masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan di desanya.
Tujuan Khusus :
Optimalisasi peran PKD.
Terbentuknya FKD yang berperan aktif menggerakan pembangunan kesehatan.
Berkembangnya kegiatan PMD ,pokja gotong royong,
upaya kesehatan ,Survailance dan Pembiayaan kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan dan melaksanakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
Peningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan.
Meningkatnya kesehatan di lingkungan desa.
Meningkatnya kesiagaan dan kesiapsediaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah penyakit, dsb).
Menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Meningkatkan pertolongan persalinan oleh nakes.
Meningkatkan kepesertaan KB.



3.1.3. Sasaran Desa Siaga
Sasaran desa siaga dibedakan menjadi tiga jenis untuk mempermudah strategi intervensi,yaitu:
1. Semua individu dan keluarga di desa, yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
2. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh perempuan, dan pemuda,kader,serta petugas kesehatan
3. Pihak-pihak yang diharapkan memberi dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dana, tenaga, sarana, dll. Seperti kepala desa, camat, para pejabat terkait, swasta, para donatur, dan pemangku kepentingan lain.
3.1.4. Langkah-langkah Pengembangan Desa Siaga
Sebelum dibahas langkah-langkah pengembangan desa siaga akan dijelaskan terlebih dahulu proses pembentukan desa siaga. Adapun proses pembentukan desa siaga yaitu:
1. Persiapan di tingkat kabupaten
a. Keorganisasian tim lintas lembaga di tingkat kabupaten: dinas kesehatan, BKKBCS, BPMD, BAPPEDA, dan LSM
b. Pelatihan-pelatihan
2. Sosialisasi tingkat kecamatan
3.     Tingkat desa
a. Analisa masalah dengan metode PPA (Partisipatory Problem Analisys)
b. Pengorganisasian masyarakat dalam jejaring (pencatatan, dana, transport, KB)
c. Pertemuan rutin/bulanan desa siaga
Pengembangan desa siaga dilaksanakan dengan membantu / memfasilitasi masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran melalui siklus atau spiral pemecahan masalah yang terorganisasi, yaitu dengan menempuh tahap-tahap:
Mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah.
Mendiagnosis masalah dan merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah.
Menetapkan alternatif pemecahan masalah yang layak, merencanakan, dan melaksanakannya.
Memantau, mengevaluasi, dan membina kelestarian upaya-upaya yang telah dilakukan.
Secara garis besar, langkah pokok yang perlu ditempuh untuk mengembangkan desa siaga meliputi :
1. Pengembangan tim petugas
Langkah ini merupakan awal kegiatan, sebelum kegiatan-kegiatan lainnya dilaksanakan. Tujuan Iangkah ini adalah mempersiapkan para petugas kesehatan yang berada di wilayah Puskesmas, baik petugas teknis maupun petugas administrasi. Persiapan pada petugas ini bisa berbentuk sosialisasi, pertemuan atau pelatihan yang bersifat konsolidasi, yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Keluaran atau output dan Iangkah ini adalah para petugas yang memahami tugas dan fungsinya, serta siap bekerjasama dalam satu tim untuk melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat.
2. Pengembangan tim masyarakat
Tujuan langkah ini adalah untuk mempersiapkan para petugas, tokoh masyarakat, serta masyarakat, agar mereka tahu dan mau bekerjasama dalam satu tim untuk mengembangkan Desa Siaga. Dalam langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu kebijakan, agar mereka mau memberikan dukungan, baik berupa kebijakan atau anjuran, serta restu, maupun dana atau sumber daya lain, sehingga pengembangan Desa Siaga dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat bertujuan agar mereka memahami dan mendukung, khususnya dalam membentuk opini publik guna menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan Desa Siaga. Jadi dukungan yang diharapkan dapat berupa dukungan moral, dukungan finansial atau dukungan material, sesuai kesepakatan dan persetujuan masyarakat dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
Jika di daerah tersebut telah terbentuk wadah-wadah kegiatan masyarakat di bidang kesehatan seperti Konsil Kesehatan Kecamatan atau Badan Penyantun Puskesmas, Lembaga Pemberdayaan Desa, PKK, serta orga¬nisasikernasyarakatanIainnya, hendaknya lembaga-lembaga ini diikut¬sertakan dalam setiap pertemuan dan kesepakatan.
3. Survei mawas diri (SMD)
Survei Mawas Diri (SMD) atau Telaah Mawas Diri (TMD) atau CommunitySelfSurvey (CSS) bertujuan agar pemuka-pemuka masyarakat mampu melakukan telaah mawas diri untuk desanya. Survei ini harus dilakukan oleh pemuka-pemuka masyarakat setempat dengan birnbingan tenaga kesehatan. Dengan demikian, diharapkan mereka menjadi sadar akan permasalahan yang dihadapi di desanya, serta bangkit niat dan tekad untuk mencari solusinya, termasuk membangun Poskesdes sebagai upaya mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa. Untuk itu, sebelumnya perlu dilakukan pemilihan dan pembekalan keterampilan bagi mereka.
Keluaran atau output dan SMD ini berupa identifikasi masalah-masalah kesehatan serta daftar potensi di desa yang dapat didayagunakan dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut, termasuk dalam rangka rnembangunPoskesdes.
4. Musyawarah mufakat desa (MMD)
Tujuan penyelenggaraan musyawarah masyarakat desa (MMD) ini adalah mencari alternatif penyelesaian masalah kesehatan dan upaya membangun Poskesdes, dikaitkan dengan potensi yang dimiliki desa. Di samping itu, juga untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan Desa Siaga.
lnisiatif penyelenggaraan musyawarah sebaiknya berasal dari para tokoh masyarakat yang telah sepakat mendukung pegembangan Desa Siaga. Peserta musyawarah adalah tokoh-tokoh masyarakat, termasuk tokoh-tokoh perempuan dan generasi muda setempat. Bahkan sedapat rnungkin dilibatkan pula kalangan dunia usaha yang mau mendukung pengembangan Desa Siaga dan kelestariannya (untuk itu diperlukan advokasi).
Data serta temuan lain yang diperoleh pada saat SMD disajikan, utamanya adalah daftar masalah kesehatan, data potensi, serta harapan masyarakat. Hasil pendataan tersebut dimusyawarahkan untuk penentuan prioritas, dukungan dan kontribusi apa yang dapat disumbangkan oleh masing-masing individu/ institusi yang diwakilinya, serta langkah-Iangkah solusi untuk pembangunan Poskesdes dan pengembangan masing-masing Desa Siaga
3.1.5. Pendekatan Pengembangan Desa Siaga
Agar percepatan pengembangan desa siaga cepat tercapai maka ada beberapa strategi yang dilakukan oleh Tim Pengembangan Desa Siaga, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Pemberdayaan
Pada prinsipnya konsep Desa Siaga adalah pemberdayaan, dimana peran serta dari masyarakat adalah yang utama. Langkah awal yang dilakukan dalam pemberdayaan tersebut dengan membantu kelompok masyarakat memegenali masalah-masalah yang mengganggu kesehatan sehingga masalah tersebut menjadi masalah bersama. Kemudian masalah tersebut dimusyawarakan untuk dipecahkan bersama. Pembinaan Desa Siaga dilakukan dengan menggerakkan segenap komponen yang ada dalam masyarakat agar secara mandiri dan berkesinambungan, mencegah dan mengatasi masalah kesehatannya dan mengenali potensi yang dimiliki guna mengatasinya. Mengajak masyarakat agar terlibat secara mandiri dalam Desa Siaga juga dilakukan dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan semisal pada saat ada pelaksanaan Posyandu. Petugas kesehatan dari Puskesmas sangat memberi andil yang sangat besar dalam pengembangan Desa Siaga dengan startegi pemberdayaan tersebut.
2. Bina Suasana (Empowerment)
Bina suasana adalah upaya menciptakan suasana atau lingkungan sosial yang mendorong individu, keluarga dan masyarakat agar berperan dalam pengembangan Desa Siaga.Bina suasana dilakukan dengan pemberian informasi tentang Desa Siaga melalui leaflet. Misal yang telah dilakukan dengan adalah pembagian selebaran informasi tentang Demam Berdarah Dengue dengan pendekatan konsep Desa Siaga. Hal lain yang juga dilakukan adalah memotivasi kader-kader kesehatan di desa agar mampu mempunyai pengaruh untuk menciptakan opini positif tentang Desa Siaga kepada masyarakat. Pemasangan papan Desa Siaga juga adalah salah satu strategi bina suasana, hal ini dilakukan agar desa siaga menjadi familir di tengah-tengah masyarakat. Advokasi
Advokasi terus dilakukan oleh Tim Teknis Pengembangan Desa siaga dan tim promosi kesehatan oleh tenaga kesehatan puskesmas. Pendekatan juga dilakukan kepada stakeholder yang terkait guna memberikan dukungan, kebijakan, dana, tenaga, sarana dan prasarana.
3. Kemitraan
Bentuk kemitraan untuk pengembangan Desa Siaga Siaga masih dalam tahap penjajakan. Tim Teknis Desa Siaga telah melakukan pendekatan terhadap pihak ketiga ( Pihak Swasta ) agar dapat mengambil peran dalam pengembangan Desa Siaga. Tentunya ada manfaat bagi Pihak swasta yang ditawarkan jika Desa Siaga berjalan dengan baik.
3.1.6. Peran Perawat dalam Pelaksanaan Desa Siaga
Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Proporsi tenaga keperawatan (perawat dan bidan) merupakan proporsi tenaga terbesar (48%) yang dapat mempengaruhi kinerja rumah sakit dan puskesmas/ sarana pelayanan kesehatan lainnya. Perawat berperan dalam UKP (Upaya kesehatan perorangan) dan Upaya kesehatan masyarakat (UKM). Peran perawat  di semua tatanan pelayanan kesehatan di setiap level rujukan dimana bentuk pelayanan yang diberikan berupa pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif.
Perawat sebagai ujung tombak tenaga kesehatan di masyarakat tentu harus juga dipersiapkan dalam pelaksanaan desa siaga ini. Dengan mengacu dari prinsif-prinsif keperawatan komunitas yaitu (Astuti Yuni, Nursari 2005) :
1. Kemanfaatan, yang berarti bahwa intervensi  yang dilakukan harus memberikan manfaat sebesar – besarnya bagi komunitas.
2. Prinsip otonomi yaitu komunitas harus diberikan kebebasan untuk melakukan atau memilih alternative yang terbaik yang disediakan untuk komunitas.
3. Keadilan yaitu melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan atau kapasitas komunitas. Adapun peran perawat disini antara lain (Old, London, &Ladewig, 2000)
4. Sebagai pemberi pelayanan dimana perawat akan memberikan pelayanan keperawatan langsung dan tidak langsung kepada klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
5. Sebagai pendidik, perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dengan resiko tinggi  atau dan kader ksehatan.
6. Sebagai pengelola perawat akan merencanakan, mengorganisasi,menggerakan dan mengevaluasi pelayanan keperawatan baik langsung maupun tak langsung dan menggunakan peran serta aktif masyarakat dalam kegiatan keperawatan komunitas.
7. Sebagai konselor, perawat akan memberikan konseling atau bimbingan kepada kader, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan komunitas dan kesehatan ibu dan anak.
8. Sebagai pembela klien (advokator) perawat harus melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalm pelayanan keperawatan komunitas.
9. Sebagai peneliti perawat melakukan penelitian untuk mengembangkan keperawatan komunitas dalam rangka mengefektifkan desa siaga.

Mengacu dari BPPSDM Dep Kes 2006, mengenai sumber daya manusia (SDM) Kesehatan di Desa Siaga dijelaskan bahwa SDM pelaksana pada desa siaga ini menempati posisi yang sangat penting , dimana mereka akan berperan dalam sebuah tim kesehatan yang akan melaksanakan uapyapelayanan kesehatan . SDM Kesehatan yang akan ditempatan di desa siaga ini memiliki kompetensi sebagai berikut:
1. Mampu melakukan pelayanan kehamilan dan pertolongan persalinan, kesehatan ibu dan anak
2. Mampu melakukan pelayanan kesehatan dasar
3. Mampu melakukan pelayanan gizi individu dan masyarakat
4. Mampu melakukan kegiatan sanitasi dasar
5. Mampu melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan
6. Mampu melakukan pelayanan kesiapsiagaan terhadap bencana , dan mampu melaksanakan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Perawat dengan peran dan fungsinya untuk ikut mensukseskan Desa Siaga, sebaiknya telah dipersiapkan dengan baik sehingga beberapa persyaratan SDM seperti dijelaskan diatas bisa dicapai.




















BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan          
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri. Adapun tujuan umumnya adalah terwujudnya desa dengan masyarakat yang sehat, peduli, dan tanggap terhadap masalah-masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan di desanya. Sedangkan tujuan khususnya antara lain:
Optimalisasi peran PKD. Terbentuknya FKD yang berperan aktif menggerakan pembangunan kesehatan. Berkembangnya kegiatan PMD ,pokja gotong royong, Upaya kesehatan ,Survailance dan Pembiayaan kesehatan.Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan dan melaksanakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan.
Meningkatnya kesehatan di lingkungan desa. Meningkatnya kesiagaan dan kesiapsediaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah penyakit, dsb). Menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Meningkatkan pertolongan persalinan oleh nakes. Meningkatkan kepesertaan KB.

Posyandu Adalah suatu forum komunikasi, alih tehnologi dan pelayanan kesehatan masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.(Ambarwati Retna, 2009)
Tujuan Posyandu yaitu Menurunkan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran, Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu, Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil sehat dan sejahtera, Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan, Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat .
Kegiatan PosyanduKesehatan Ibu dan Anak,Keluarga Berencana,Immunisasi, Peningkatan gizi,Penanggulangan Diare,Sanitasi dasar, dan Penyediaan Obat essensial.
Pondok Bersalin Desa (Polindes) adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang merupakan wujud nyata bentuk peran serta masyarakat didalam menyediakan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak lainnya, termasuk KB di desa. (Dinkes, 1999)
Tujuan Posyandu Menurunkan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran, Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu, Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil sehat dan sejahtera, Meningkatkan kemampuan masyarakat mengembangkan kegiatan kesehatan, Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan, Peningkatan dan pembinaan peran serta masyarakat.
Sasaran Polindes Bayi berusia kurang dari 1 tahun, Anak balita usia 1 sampai dengan 5 tahun, Ibu hamil, Ibu menyusui, Ibu nifas, Wanita usia subur,Kader,Masyarakat setempat.

Saran
Sebaiknya UKBM ini harus di gerakkan dengan sebaik-baiknya agar mendapat hasil semaksimal mungkin dan dapat meningkatkan kesehatan di desa setempat. Harapan kami, semoga makalah ini bermanfaat dan kami juga berharap semoga angka kesakitan dan kematian di Indonesia dapat
menurun dan diturunkan.





DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Eny Retna. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Nuha Medika
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes. Februari 2009.PELAYANAN KEPERAWATAN DALAM SISTEM PELAYANAN KESEHATAN diakses tanggal 22 April 2018 melalui http://staff.ui.ac.id/internal/132014715/material/SISYANWATDLMSISYANKES.ppt
Depkes RI, 1993, Jakarta, Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat
Depkes RI, 1996, Jakarta, Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat.
Dr. Sri Astuti Suparmato, MSc.Ph Dirjen Bina Kesmas Depkes RI.Pengembangan Desa Siaga dan Pos Kesehatan Desa diakses tanggal 22April 20 18melalui http://www.dinkesjatim.go.id/images/datainfo/200609281012MATERI%20DESA%20SIAGA%20&%20POSKESDES.pdf

Hiperbilirubinemia

LAPORAN ASUHAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL NEONATAL PADA KASUS HIPERBILIRUBINEMIA















Disusun Oleh :
Ika Setiawati Wahyu Romadhoni
20160661003
Program Studi D3 Kebidanan
Fakultas Ilmu Kesehatan
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Angka kematian neonatal adalah angka kematian bayi yang lahir hidup dalam minggu pertama setelah kelahiran hidup (Manuaba,2007). Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2009, Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sekarang adalah 35 bayi per 1000 kelahiran . Bila dirincikan 157.000 bayi mennggal dunia per tahun atau 430 bayi meninggal dunia per hari. Dalam Millenium Development Goals (MDGs), Indonesia menargetkan pada tahun 2015 AKB menurun menjadi 17 bayi per 1000 kelahiran.
Beberapa penyebab kematian bayi baru lahir (neonatus) yang terbanyak disebabkan oleh kegawatdaruratan dan penyulit pafda masa neonatus, seperti bayi berat lahir rendah (BBLR), asfiksia neonatorum, trauma lahir, dan kelainan kongenital. World Health Organization (WHO) dalam pernyataan tentang Neonatorum Dunia tahun 2001 melaporkan bahwa penyebab langsung Kematian Neonatus adalah infeksi (32%) , afiksia (29%), komplikasi prematuritas (24%), kelainan bawaan (10%), dan lain-lain (5%). Timbulnya penyulit pada masa neonatus ini sesungguhnya masih dapat dicegah melalui berbagai upaya antara lain melalui perbaikan tingkat kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (neonatus).
Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 gram sampai 4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis dan tidak ada kelainan kongenital (cacat bawaan ) yang berat (Kosim,2007). Masalah utama bayi baru lahir adalah masalah yang sangat spesifik yang terjadi pada masa si bayi serta dapat menyebabkan kecatatan dan kematian. Salah asatunya penyebab kematian bayi adalah hiperbilirubin (Hasan, 2007). Hiperbilirubin adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonatorum setelah ada hasil laboratorium yang menunjukkan peningkatan kadar serum bilirubin (Iyan,2009). Ikterus biasanya akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Kejadian ikterus 50% terdapat pada bayi cukup bulan (Aterm) dan sekitar 75% - 80% terdapat bayi kurang bulan (Preterm) (winkjosastro,2007).
Pada neonatus ikterus dapat bersifat fisiologis ataupun patologis. Ikterus fisiologis tampak kira-kira 48 jam setelah keahiran dan biasanya menetap dalam 10-12 hari. Ikterus ini memiliki sejumlah penyebab patologis , meliputi peningkatan hemolisis, gangguan metabolik, endokrin, infeksi, serta ensefalopati bilirubin. Ensefalopati bilirubin terjadi akibat terikatnya asam bilirubin bebas dengan lipid dinding sel neuron di ganglia basal, batang otak dan serebulum yang dapat menyebabkan kematian sel, dimana bila tidak segera ditangani dapat meningkatkan kematian (Franser,2009).
Menurut Surasmi, dkk (2003) bayi cukup bulan  yang  mendapat Air Susu Ibu (ASI), kadar bilirubin akan mencapai puncaknya sekitar 6-8 mgg/dL pada hari ke 3 dan kemudian akan menurun cepat selama 2-3 hari diikuti dengan penurunan yang lambat sebesar 1 mg/dL selama 1-2 minggu. Pada bayi cukup bulan yang mendapat susu formula, kadar bilirubin puncak akan mencapai kadar yang lebih tinggi (berkisar 7-14 mg/dL) dan penurunannya lebih lambat hingga 2-4 minggu, bahkan dapat mencapai waktu 6 minggu.
1.2. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum :
 Mahasiswa mampu menerapkan asuhan kebidanan pada neonatus dengan ikterus melalui pendekatan manajemen kebidanan dengan 7 langkah Varney dan pendokumentasian SOAP.
2. Tujuan Khusus :
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada by. Ny. F dengan ikterusneonatorum.
b. Mahasiswa mampu menentukan diagnosa kebidanan pada by. Ny. E dengan ikterusneonatorum.
c. Mahasiswa mampu menegakxan diagnosa dan masalah potensial pada by. Ny. E dengan ikterusneonatorum
d. Mahasiswa mampu mengidentifikasi kebutuhan akan tindakan segera atau kolaborasi by. Ny. E dengan ikterusneonatorum.
e. Mahasiswa mampu merencanakan tindaskan asuhan kebidanan by. Ny. E dengan ikterusneonatorum.
f. Mahasiswa mampu melakukan pelaksanaan atas rencana manajemen yang telah direncanakan by. Ny. E dengan ikterusneonatorum /
g. Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan kebidanan pada by. Ny. E dengan ikterusneonatorum
1.3. Manfaat
1. Manfaat teoritis
Memberikan tambahan tentang Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir kegawatdaruratan pada neonatus dengan hiperbilirubinemia, serta sebagai pengembangan ilmu pengetahuan tentang  Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir kegawatdaruratan pada neonatus dengan hiperbilirubinemia.
2. Manfaat Praktis
Bidan mampu mengetahui penatalaksanaan Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir kegawatdaruratan pada neonatus dengan hiperbilirubinemia, serta diharapkan bidan dapat memberikan Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir kegawatdaruratan pada neonatus dengan hiperbilirubinemia secara profesional







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Teori Hiperbilirubinemia
2.1.1 Pengertian
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva dan mukosa akibat penumpukan bilirubin, sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kern-ikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalikan. (Mansjoer , A dkk,2000).
Ikterus atau hiperbilirubin fisiologis (kadar bilirubin <10 mg%) adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak memiliki dasar patologis , kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau memiliki potensi untuk terjadi kern-ikterus dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.
Hiperbilirubin patologis (kadar bilirubin >12.5 mg%) adalah ikterus yang memiliki dasar patologis atau kadar bilirubinnya memiliki suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia dan ini berakibat negative terhadap organ tubuh terutama bila menembus sawar otak yang disebut kern-ikterus.
Pada bayi normal, kadar bilirubin akan meningkat mulai hari ke 2-3, mencapai puncaknya pada hari ke 5-7 dan menurun kembali sampai hari ke 10-14, kulit biasanya nampak kuning bila kadar bilirubin mencapai 5-7mg%, mulai dari muka, leher, kemudian turun ke badan dan ekstremitas.
Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern-ikterus bila tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan patologis. Brown menetapkan 12 mg% pada bayi cukup bulan, dan 15 mg% pada bayi kurang bulan. Sedangkan Uteli menetapkan 10 mg% dan 15 mg%. (Harison,et all, 2000).
Kern-ikterus adalah suatu kerusakan otak akubat perlengketan bilirubin indirek pada otak terutama pada korpus striatum, thalamus, nucleus subtalamus hipokampus, nucleus merah dan nucleus di dasar ventrikel IV . (Staf Pengajar IKA , 1985)
2.1.2 Etiologi
Etiologi ikterus pada neonatus kadang-kadang sangat sulit untuk ditegakkan. Seringkali faktor etiologinya jarang berdiri sendiri. Untuk memudahkan maka dapat dipakai pendekatan tertentu dan yang mudah dipakai ialah menurut saat terjadinya ikterus :
1.  Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama
Penyebab ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun  sebagai berikut :
a. Inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan lain
b. Infeksi intrauterin (oleh virus, toksoplasma, sifilis, dan kadang-kadang bakteria)
c. Kadang-kadang oleh defisiensi enzim G6PD
Pemeriksaan yang perlu dilakukan ialah :
Kadar bilirubin serum berkala
Darah tepi lengkap
Golongan darah ibu dan bayi
Tes coombs
Pemeriksaan strining defiensi enzim  G6PD, biarkan darah atau biopsi hepar bila perlu
2. Ikterus yang timbul 24-72 jam sesudah lahir. (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
a. Biasanya ikterus fisiologik
b. Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini dapat diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat, misalnya melebihi 5 mg % per 24 jam
c. Defiensi enzim G6PD atau enzim eritrosit lain, juga masih mungkin.
d. Polisitemia
e. Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan subapeneurosis, perdarahan hepar, subkapsula dan lainnya).
f. Hipoksia
g. sfersitosis, eliptositosis dan lain-lain
h. dehidrasi-asidosis
Pemeriksaan yang perlu dilakukan . Bila keadaan bayi baik dan peningkatan ikterus tidak cepat :
Pemeriksaan darah tepi
Pemeriksaan darah bilirubin berkala
Pemeriksaan skrining enzim G6PD
Pemeriksaan lain-lain dilakukan bila perlu
3. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama.(Abdoerrachman, H, dkk.1981Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
a. Biasanya karena infeksi (sepsis)
b. Dehidrasi dan asiolosis
c. Defisiensi enzim G6PD
d. pengaruh obat-obat
e. Sindroma Criggler-najjar
f. Sindroma Gilbert
4. Ikterus yang timbul pada akhir mingu pertama dan selanjutnya. (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak.Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
a. Biasanya karena ikterus obstruktif
b. Hipotiroidisme
c. “ Breast milk jaundice”
d. Infeksi
e. Hepatitis neonatal
f. Galaktosemia
g. Lain-lain
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan :
Pemeriksaan bilirubin berkala
Pemeriksaan darah tepi
Skrining enzim G6PD
Biarkan darah, biopsi hepar bila ada indikasi
Pemeriksaan lain-lain yang berkaitan dengan kemungkinan penyebab
Penyebab dari hiperbilirubinemia antara lain :
1. Penghancuran sel adarh merah (hemolisis sel darah merah ). Misalnya : pada ketidak selarasan golongan darah rhesus dan ABO (inkompatibilitas), defisiensi G6PD , sepsis.
2. Metabolisme bilirubin yang terganggu. Misalnya : premature , cepalenhepar belum matang, hiperprotein/albumin.
3. Ekskresi bilirubin yang terganggu.








Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kasus hipebilirubinemia :
1. (Wirastari,M ) menyatakan bahwa timbulnya gejala ikterus dapat membantu kita untuk menentukan penyebab hiperbilirubinemia , yaitu :
Hari 1 Hari 2-3 Hari 4-5 Hari 5-6
Inkompatibilitas golongan darah (ABO,RH) Inkompatibilitas golongan darah (ABO,RH) Dehidrasi /asedosis/ hipoglikemia ASI
Infeksi bakteri Ikterus fisiologik Polisitemia Defisensi G6PD
TORCH Infeksi intrauterine Hemolisis Sepsis
Polisitemia ASI Hipoksia
Hemolisis Defisiensi G6PD Asfiksia
Perdarahan intracranial, paru, dsb Sverosifosis (sel darah merah yang bentuknya membundar) Dehidrasi
Pyruvatkinase Asidosis
Akibat hipoksia / asfiksia Hipoglikemia
Sepsis Gangguan metabolic

2. Menurut AH Markum (2002) menyebutkan bahwa  penyebab hiperbilirubinemia adalah :
a. Hemolisis seperti pada inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidak sesuaian golongan darah bayi pada penggolongan resus dan ABO.
b. Perdarahan tertutup, misalnya trauma kelahiran.
c. Iaktan bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolic yang terdapat pada bayi hipoksia atau asidosis.
d. Defisiensi G6PD (Glukosa  6 Phospat Dehidrogenase)
e. Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3(alfa), 20 (betha), diol (steroid)
f. Kurangnya enzim glukoranil transferase , sehingga kadar bilirubin indirek meningkat
g. Kelainan kongenital
h. Hipoksia , dehidrasi, dan asidosis, hipoglikemia, polisitemia.
i. Infeksi.
j. Breast milk dan breast feeding yang buruk.
3. Berdasarkan awitan
< 24 jam 24 – 72 Jam >72 Jam
Hemolisis ABO, Rh Fisiologis Sepsis
Defisiensi G6PD Sepsis Sefalhematoma
Sferositosis herediter Polisitemia Breastmilk
Infeksi Perdarahan intraventrikular Jaundice
Sirkulasi enterohepatik Kelainan metabolik
Hepatitis neonatal
Atresia bilier

3.1.3 Patofisiologi
Sel-sel darah merah yang telah tua dan rusak akan dipecah / dihirolisis menjadi ilirubin (pigmen warna kuning), yang oleh hati akan dimetabolisme dan dibuang melalui feses. Didalam usus juga terdapat bbanyak bakteri yang mampu mengubah bilirubin sehingga mudah dikeluarkan bersama feses. Hal ini terjadi secara normal pada orang dewasa. Pada bayi baru lahir, jumlah bakteri pmetabolisme bilirubin ini masih belum mncukupi sehingga ditemukan bilirubin yang masih beredar dalam tubuh tidak dibuang bersama feses. Begitu pula dalam usus bayi terdapat enzim glukoronil transferase yang mampu mengubah bilirubin dan menyerap kembali bilirubin ke dalam darah sehingga makin memperparah akumulasi bilirubin dalam badannya. Akibat pigmen tersebut akan disimpan dibawah kulit, sehingga kulit bayi menjadi kuning. Biasanya dimulai dari wajah, dada, tungkai, dan kaki menjadi kuning. Biasanya hiperbilirubinemia dan sakit kuning akan menghilang setelah minggu pertama. Kadar bilirubin yang sangat tinggi bisa disebabkan oleh pembentukan yang berlebihan atau gangguan pembuangan bilirubin. Kadang pada bayi cukup umur yang diberi susu ASI, kadar bilirubin meningkat secara progesif pada minggu pertama: keadaan ini disebut  jaundice ASI. Penyebabnya tidak diketahui dan hal ini tidak berbahaya. Jika kadar bilirubin sangat tinggi mungkin perlu dilakukan terapi, yaitu terapi sinar atau tranfusi tukar.
3.1.4 Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala neonatus dengan hiperbilirubinemia adalah sebagai berikut :
1. Kulit jaundice (kuning)
2. Sklera ikterik
3. Peningkatan konsentrasi bilirubin serum 10mg% pada neonatus yang cukup bulan dan 12,5 mg% pada neonatus yang kurang bulan.
4. Kehilangan berat badan sampai 5% selama 24 jam yang disebabkan oleh rendahnya  intake kalori.
5. Asfiksia
6. Hipoksia
7. Sindrom gangguan pernafasan
8. Pemeriksaan abdomen terjadi bentuk perut yang membuncit.
9. Feses berwarna seperti dempul dan pemeriksaan neurologist dapat ditemukan adanya kejang.
10. Epistotonus (posisi tubuh bayi melengkung)
11. Terjadi pembesaran hati
12. Tidak mau minum ASI
13. Letargis
Efleks moro lemah atau tidak ada sama sekali (AH Markum, 2002)
3.1.5 Komplikasi
1. Kern- Ikterus
2. Kerusakan hepar
3. Gagal ginjal
3.1.6 penatalaksanaan
1. Nasehat untuk ibu
Mengingat kemungkinan bahwa 60% bayi baru lahir akan menderita kuning, maka peran bidan harus dapat memberi nasihat pada para ibu mengenai penangananan ikterus fisiologis dan memberitahu gejala dini ikterus patologik sebelum memulangkan bayi atau pada saat perawatan antenatal care. Adapun asuhan yang diberikan meliputi :
a. Pada waktu hamil, ibu sebaiknya tidak minum obat, ramuan, atau jamu-jamuan yang diketahui sering berakibat kuning pada bayi .
b. Jika bayi yang dilahirkan normal, maka ibu harus mengusahakan agar bayinya menerima cukup asupan kalori dan cairan. Dirumah bersalin/ rumah sakit agar diusahakan ruang bayi cukup mendapat sinar matahari pagi.
c. Pada saat memulngkan bayi pada umur bayi 3-4 hari, asuhan yang diberikan adalah menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin dan menjemur bayinya pada pagi hari selama 30 menit, tanpa baju, sampai bayi berumur 10-14 hari. Ibu diberitahu untuk tidak memberi kamper pada baju bayi.
d. Ibu diberitahukan bahwa semua bayi yang kuning pada hari pertama harus dirujuk ke rumah sakit.
e. Bayi yang sudah banyak menyusu dan sudah dijemur namun masih nampak kuning , ibu dianjurkan untuk membawa bayinya ke puskesmas/dokter/rumah sakit.
f. Ibu diberitahukan tentang terapi sinar yang diberikan bila kadar bilirubin total lebih dari 12 mg% dan tranfuse tukar bila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg%
g. Bayi yang pada umur 2-3 minggu masih kuning, tetapi tidak begitu tinggi, kemungkinan bayi mengalami gangguan metabolik, kelainan hepar atau kuning karena ASI. Maka ibu dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter.


2. Penatalaksanaan umum
a. Tentukan jenis ikterus : fisiologis atau patologis
b. Penatalaksaan pada bilirubin indirek :
10-12 mg% adalah fototerapi
12-15 mg% adalah fototerapi
Bila protein rendah diberikan albumin atau plasma
Kalori cukup
c. Tanggulangi penyakit penyerta (sepsis/dehidrasi)
d. Bila kadar bilirubin lebih dari 20 mg% (bayi cukup bulan) atau kadar bilirubin 18 mg% (bayi premature) dilakukan tranfusi tukar.
3. Rekomendasi AAP (The American Academic of Pediatric)  tentang penatalaksanaan Hiperbilirubinemia pada bayi cukup bulan (2000).
a. Perlu dilakukan testing prenatal care termasuk ABO dan Rhesus D dan screening antibody isoimun.
b. Bila belum melakukan seperti tersebut diatas atau ibu rhesus negative , bayi harus diperiksa golongan darah tes comb direct, rhesus D dari darah tali pusat.
c. Contoh darah tali pusat di simpan terutama bila golongan darah ibu O , untuk pemeriksaan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan
d. Bila adanya riwayat kekurangan enzim G6PD, bayi diperiksa kadarnya.
e. Bila ikterus terjadi dalam 24 jam pertama, maka bilirubin total mutlak harus diperiksa.
f. Pemeriksaan ikterus secara klinik harus dibawah sinar lampu yang terang. Peningkatan bilirubin serum dapat diperkirakan dengan meluasnya kekuningan dari kepala ke bagian bawah. Pemeriksaan dengan ikterometer juga dapat dilakukan.
g. Bayi yang dipulangkan sebelum 48 jam,harus diperiksa oleh tenaga kesehatan diklinik selama 3 hari berturut- turut.
h. Bila ibu melaporkan kencing berwarna kecoklatan, buang air besar berwarna pucat/ seperti dempul, periksa bilirubin indirect.
i. Bila ikterus tidak hilang selama 3 minggu , periksa kadar bilirubin urine, total dan bilirubin direct.
j. Evaluasi bila bayi mengalami malas minum, apnea, suhu tidak normal, perubahan keadaan
4. Fototherapi
 Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a boun of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch 1984). Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine.
Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia.
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa  ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah
5. Tranfusi  Pengganti
Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
a. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
b. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
c. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
d. Tes Coombs Positif
e. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama.
f. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.
g. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
h. Bayi dengan Hidrops saat lahir.
i. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.
Transfusi Pengganti digunakan untuk :
a. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
b. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
c. Menghilangkan Serum Bilirubin
d. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan Bilirubin
 Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.
6. Proses tranfusi tukar
Penggantian 5 ml darah bayi dengan darah yang sudah dihangatkan, dilaksanakan setiap 3 menit perlahan. Pencatat waktu hendaknya diaktifkan selama proses dilaksanakan.
Tempat darah / bag tidak boleh diperas untuk menghindari penggumpalan, bahay aemboli. Selama proses, bag perlahan digerakkan agar dapat mempertahankan hematokrit dan kekentalannya dapat terjamin.
Setelah setengah kebutuhan sudah dikerjakan, diberikan 1 ml Calcium glukonas 10%, karena pengawet darah di dalam bag darah yaitu Citrat Bufferakan mengikat Calcium dan akan menurunkan level ionized calcium yang pada gilirannya akan menyebabkan hipokalsemia. Pemberiannya melalui arteri umbilikalis atau pembuluh darah perifer, bukan lewat kateter pada vena yang sama. Pada tahap akhir pengambilan darah bayi, diperiksakan ke laboratorium untuk pemeriksaan pasca tranfusi tukar
7. Komplikasi tarnfusi tukar
Selama proses Sesudah proses
Emboli Infeksi
Gangguan keseimbangan cairan Hipokalsemia
Aritmia Hipoglikemia
Asidosis Hipernatremia
Sesak nafas Trombositopenia
Hiperkalemia Gangguan pembekuan darah
Anemia atau polisitemia Necrotizing Entero Coitis (NEC)
Fluktuasi tekanan darah serebral Infeksi melalui donor darah

Hal yang harus diperhatikan pada bayi setelah tranfusi tukar adalah :
a. Observasi tanda vital
b. Perhatikan perdarahan pada umbilical
c. Perhatikan apakah ada tanda-tanda emboli atau thrombus dengan tanda-tanda sianotik pada kaki dan parise pada kedua kaki.
8. Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi).
Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika.
Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
a. Menghilangkan Anemia
b. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi
c. Meningkatkan Badan Serum Albumin
d. Menurunkan Serum Bilirubin
Derajat pada neonatus menurut KRAMER
Zona Bagian tubuh yang kuning Rata-rata serum indirek (umol / l)
1
2
3
4
5 Kepala dan leher
Pusat dan leher
Pusat dan paha
Lengan + tungkai
Tangan + kaki 100
150
200
250
>250

Tatalaksana ikterus pada neonatus sehat cukup bulan berdasarkan bilirubin indirek (mg / dl)
Usia (jam) Pertimbangkan terapi sinar Terapi sinar Tranfusi tukar bila terapi sinar intensif gagal Tranfusi tukar dan terapi sinar intesif
<24
25-48
49-72
>72
>11,8
>15,3
>17
>15,3
>18,2
>20
>20
>25,3
>25,3
>25,3
>30
>30

3.1.7. Batasan – batasan
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut  (Hanifa, 1987):
a. Timbul pada hari kedua-ketiga
b. Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
c. Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
d. Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
e. Ikterus hilang pada 10 hari pertama
f. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu
2. Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia
Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus bila tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan Hiperbilirubinemia  bila kadar Bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
3. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus  Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.




2.2. KONSEP ASUHAN KEBIDANAN  
2.2.1 Pengkajian
1. Identitas
a. Nama bayi : Untuk membedakan bayi yang satu dengan bayi yang lain
b. Umur bayi :Untuk mengetahui hari keberapa dilakukan pengkajian/asuhan
c. Tgl/jam lahir : Untuk mengetahui kapan bayi tersebut lahir/umur
d. Jenis kelamin : Untuk mengetahui jenis kelamin bayi tersebut (ada kemungkinan terjadi kelainan  gender kejadian , iktems. pada BBL lebih besar pada iaki-laki).
e. Berat badan : Untuk mengetahui   apakah bayi     lahir dengan berat rendah, nornial/bayi besar.
Bayi normal 2500 gr - 4000 gr.
Pada bayi ikterus kemungkinan kecil masa kehamilan, BLR dan besar masa kehamilan
a. Panjang badan : Panjang badan normal 48 - 52 cm
b. Nama Ibu/Ayah : Untuk identifikasi bayi/pasien
c. Umur Ibu/Ayah : Untuk identifikasi bayi / pasien .
d. Suku bangsa : Untuk mengetahui adat istiadat dan kebiasaan
e. Agama : Menentukan jenis pendekatan spiritual
f. Pendidikan : Status sosial ekonomi dan pendapatan
g. Alamat : Mengetahui keadaan lingkungan tempat tinggal dan untuk identifikasi
2. Anamnesa
Pada tanggal ........ pukul......
a. Riwayat penyakit kehamilan
b. Untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita selama kehamilan yang dapat menyebabkan bayi ikterus.
Contoh : diabetes, golongan darah ibu - bayi tidak sesuai, Rh/ABO incompatibility, sakit infeksi, spherositosis kongenital
c. Kebiasaan waktu hamil
Untuk mengetahui kebiasaan ibu pada saat hamil yang dapat berpengaruh pada janin/BBL
3. Riwayat persalinan sekarang
a. Jenis persalinan :Biasanya ikterus terjadi persalinan dibantu vacmeksraksi
b. Penolong : Apakah dokter atau bidan
c. Tempat persalinan : Apakah di rumah ibu, bidan atau RS
d. Umur kehamilan : Pada ikterus kemungkinan terjadi pada preterm. kecil masa kehamilan. dan.  besar masa kehamilan.
e. Ketuban : Warnanya jernih atau keruh, baunya khas atau tidak,  jumlahnya normal atau tidak. Normalnya < 500 cc.
f. Komplikasi persalinan: Biasanya bayikterus terjadi pada persalinan dengan trauma.
g. Keadaan bayi baru lahir : nilai dengan APGAR 1 menit pertama dan 5 menit kedua
2.2.2. Pemeriksaan
1. Keadaan umum : Apakah bayi tampak baik atau tidak. Biasanya bayi ikterus terlihat letargi / aktifitas menurun
2. Suhu : Suhu normal 36,5 - 37,2° C
3. Pernapasan : Frekuensi pernapasan sebaiknya dihitung 1 menit penuh. Normalnya 40-60x / menit
4. Nadi : Frekuensi nadi normal 70 - 180x /menit
5. BB sekarang                   : untuk mengetahui kenaikan / penurunan BB bayi
2.2.3. Pemeriksaan fisik secara sistematik
1. Kepala : Dilihat besar, bentuk, molding, sutura, adakah caputikterus terjadi pada pendarahan intra kranial dan sefal hematom
2. Muka : Untuk melihat kelainan kongenital, adakah warna kuning
3. Mata : Ada tidaknya pendarahan atau warna kuning pucat menandakan anemia
4. Telinga : Letak dan bentuk dapat mencerminkan kelainan konaenital
5. Mulut : Ada tidaknya tabioskilis, labiopatatoskius -  Reflek hisap baik atau tidak
6. Hidung : Ada sumbatan atau kelainan lain seperti cuping hidung.
7. Leher : Apakah ada pembesaran kelenjar getah bening / tiroid atau tidak.
8. Dada :Apakah tampak simetris atau tidak, ada wheezing dan ronchi
9. Tali pusat dan abdomen : Apakah ada tanda-tanda infeksi atau tidak dan pada ikterus pada palpasi abdomen terdapat pembesaran limfe dan hepar
10. Punggung : Adakah kelainan dan dilihat bentuknya, apakah ada spina bifida atau tidak.
11. Ekstermitas : Dilihat kelainan bentuk dan jumlah
12. Genitalia : Pada bayi laki-laki testis sudah menurun atau belum dan terdapat lubang uretra atau tidak pada bayi perempuan labiarnayora telah menutupi labiaminora belum, Lubang vagina ada atau tidak.
13. Anus : Ada atau tidaknya lubang anus

Reflex: Bayi ikterus ada kemungkinan kehilangan reflekmoro, palmar reflek,  rooting reflek.
Antropometri : Lingkar kepata, lingkat dada, lingkar lengan atas.
Eliminasi
a. Miksi                  :     Kemungkinan warna urine gelap pekat sampai hitam kecoklatan
b. Meconiurn / feces:    Kemungkinan lunak dan berwarna coklat kehijauan
Warna kulit : Penilaian ikterus secara klinis menurut rumus Kramer
2.2.4. Interpretasi Data
Neonatus dengan. ikterus patologis.
2.2.5. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial    
Kernikterus, dehidrasi, bronzeikterus, hipotermi.
2.2.6. Identifikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera
Kolaborasi dengan dokter spesialis anak atau transfusi tukar sesuai dengan. advise dokter.

2.2.7. Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Merencanakan asuhan untuk bayi baru lahir dengan ikterus sesuai dengan penyebabnya.
2.2.8. Pelaksanaan
Melaksanakan asuhan bayi baru lahir dengan. ikterus sesuai dengan. perencanaan.
Dalam penanganan Minis, cara-cara yang dipakai ialah mencegah dan mengobati hiperbilirubinemia, terbagi menjadi :

1. Mempercepat metabolisme dan pengeluaran bilirubin :
a. Early Feeding, pemberian makanan dim pada neonatus dapat mengurangi terjadinya ikterus fisiologi pada neonatus. Hal ini mungkin sekali disebabkan karena dengan pemberian makman yang dini itu terjadi pendorongan gerakan usus dan mekonium lebih cepat dikeluarkan, sehingga peredaran enterohepati bilirubin berkurang.
b. pemberian agar-agar, pemberian agar-agar peros dapat mengurangi terjadinya ikterusfisiologik dan neonatus.
c. Mekanisme adalah dengan menghalangi atau mengurangi peredaran bilirubin enterohepatik.
d. pemberian tenobarbital, dapat menurunkan kadar bilirubbin tidak langsung dalam serum bayi yaitu dengan. mengadakan induksi enzim mikrosoma sehingga konjugasi bilirubin berlansung lebih cepat.
2. Terapi sinar
Dengan mengubah bilirubin menjadi bentuk yang tidak toksik dan yang dapat dikeluarkan dengan sempurna melalui ginjal dan traktus digestivus.
Cremer (1957) melaporkan bahwa pada bayi penderita ikterus yang diberi sinar matahari lebih dari penyinaran biasa. Ikterus lebih cepat hilang dibandingkan dengan bayi lain yang tidak disinari.
 Dengan kriteria untuk dilakukan penyinaran :
- suhu tubuh 36,5 - 37,2°C
- tidak terjadi cidera atau luka bakar pada kulit/jarinoan
- kadar bilirubin serum normal
Penatalaksanaan
1. Perhatikan dan dokumentasikan warna kulit dari kepala, sklera dan tubuh secara progresif terhadap ikkterik sedikitnya setiap shift
2. Berikan suhu lingkungan netral.
3. Pertahankan suhu aksila 36,5°C, hindari stres dingin.
4. Pantau tanda vital tiap 2 jam sekali
5. Beri nutrisi yang adekuat
6. Pantau masukan dan keluaran cairan, timbang BB tiap hari
7. Pertahankan terapi cairan parenteral sesuai advis.
8. Cuci area perintal setiap habis defeksi, observasi kulit kemungkinan iritasi.
9. Periksa kadar bilirubin setiap 12 jam.
10. Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar Hb, trombosit, leukosit.
11. Periksa jampenggunaan lampu.
3. Transfusi tukar darah
Tujuan utamanya untuk mencegah efek taksik bilirubin dengan cara mengeluarkan dari tubuh.
Indikasi untuk tranfusi tukar :
- pada semua keadaan dengan kadar bilirubin indirek> 20 mg%
- kenaikan kadar bilirubin indirek yang cepat, yaitu 4,3 - 1 mg%
- anemia yang berat pada bayi baru lahir dengan gagal jantung
- kadar Hb tali pusat < 14 mg% dan uji coomsdirek positif
2.2.9. Evaluasi
Mengevaluasi hasil dari pelaksanaan asuhan bayi bari lahir dengan ikterus sehingga penyebabnya dapat diatasi
1. Dengan penberian ASI segera dapat mempercepat metabolisme dan pengeluaran bilirubin
2. Dengan terapi sinar :
- kadar bilirubin dalam darah menutun
- tidak terjadi hypotermi atau hipertermi
- tidak terjadi kerusakan
3. Dengan tranfusi tukar :
- kadar bilirubin dalam darah menurun
- tidak terjadi infeksi post transfusi
BAB III
TINJAUAN KASUS
Tanggal : 29 Januari 2008
Data Subjektif
A.    Identistas
Nama bayi          :    Bayi Ny.F
Umur Bayi          :    4 hari
Tgl/jam lahir        :    25 Januari 2008 pkl 07.00 WIB
Jenis Kelamin     :    Laki-laki
No. Status reg     :  
Berat Badan       :    2850 gram                
Panjang Badan   :    48 cm
Nama Ibu            :    Ny. F                         NAMA Ayah   : Tn. A
Umur                  :    23 tahun                     Umur                : 27 tahun
Agama                :    Islam                          Agama              : Islam
Pendidikan         :    SMP                           Pendidikan       : SMP
Pekerjaan            :    Tidak bekerja             Pekerjaan          : Wiraswasta

B.     Anamnesa
1.      Riwayat penyakit kehamilan
Eklamsi
2.      Kebiasaan saat hamil
Makan : 3x sehari, porsi biasa menu : nasi beserta lauk¬pauknya
Minum : 6 - 8 gelas per hari
Obat-obatan : Mengkonsumsi obat-obatan dari bidan saja
Merokok : Tidak pernah

3.      Riwayat persalinan sekarang
a. Jenis persalian : SC
b. Ditolong oleh : Dokter Nursyamsi SPOG
c. Tempat Persalinan : RSUD 45 Kuningan
d. Umur kehamilan : 37 minggu
e. Komplikasi persalinan
Ibu : Tidak ada
Bayi : Tidak ada
f. Keadaan bayi baru lahir : Tidak ada kelainan bayi langsung menangis
Data Objektif
Keadaan umum : Sedang
Suhu : 37oC
Pernafasan : 48x / menit
Nadi : 125 x / menit
Berat badan lahir : 2850 gram
Berat badan sekarang : 2750 gram
Pemeriksaan fisik secara klinis :
Kepala : Bentuk kepala bulat, terlihat permukaan kulit berwarna kuning.
Muka : Tidak ada kelainan dan kulit berwarna kuning.
Telinga :  Bentuk simetris, tidak ada kelainan, pada permukaan kulit terlihat kuning.
Mulut : Tidak ada kelainan, reflek hisap (+)
Hidung : Bentuk simetris, tidak ada cuping hidung, pada permukaan kulit terlihat kuning.
Leher : Tidak ada pembengkakan ataupun benjolan, pada permukaan kulit terlihat kuning.
Dada : Bentuk simetris, tidak ada wheezingaturonchi dan irama jantung reguler, pada permukaan kulit terlihat kuning.
Tali pusat : Tidak ada kelainan dan tidak terdapat tandaa-tanda infeksi,
Punggung : Posisi tulang belakang normal, tidak ada pembengkal:an ataupun tonjolan, permukaan kulit terlihat kuning.
Ektremitas : Bentuk simetris. Jari-jari normal.
Genitalia : Bentuk normal, skrotum berada di bawah / sudah turun.
Anus : Terdapat lubang anus, lubang penis (+), tidak ada kelainan.
Eliminasi :
BAK : Frekuensi : 2 - 5 x per hari
Warna : kuning
BAB : Frekuensi :       1 - 3 x per hari
Warna : Kuning
Konsistensi : Lembek
Warna kulit :Terdapat warna kuning pada bagian kepala, leher, badan bagian atas dan bawah
Laboratorium :
Golongan darah ibu     :    A
Golongan darah ayah  :    A
Golongan darah bayi   :    belum dilakukan pemeriksaan
Bilirubin total / indirek:    9,35%
Assesement
Dx                    :    NCB SMK usia 4 hari dengan ikterus patologis derajat 2
Masalah           :    Orang tua merasa cemas akan keadaan bayinya yang tidak kunjung sembuh setelah berobat ke dokter dan bayi di sinar dengan matahari pada pagi hari.
Kebutuhan       :    Memberikan penyuluhan agar orang tua tidak merasa cemas karena dapat mengganggu ibu dari bayi karena masih dalam keadaarpostpartum.
Potensial          :    Kernikterus (kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak).
Planning
Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
1. Mengobservasi tanda-tanda vital, berat badan, asupan nutrisi dan penyinaran dengan bluelightincubator , Hasil observasi tercatat dalam lembar observasi
2. Bayi diistirahatkan untuk diberi ASI ,Bayi mendapatkan cukup ASI dari ibunya dan PASI.
3. Mencatat waktu istirahat dan mencuci areal perional setiap bayi BAK / BAB dan observasi iritasi , Tidak terdapat iritasi pada kulit bayi.
4. Memberikan terapi antibioti 3x 0,75 ml, sudah diberikan
5. Menjelaskan kepada orang tua bayi tentang sebab-sebab serta manfaat pemberian terapi sinar bluelightincubator dan manfaat dari sinar matahari pagi , orang tua tahu dan mengerti akan penjelasan tentang keadaan bayinya serta manfaat dari terapi penyinaran yang dilakukan.
6. Melibatkan orang tua dalam perawatan bayi dan memberi kesempatan pada bayi untuk menetek serta membina hubungan ibu dan bayinya , Ibu dan keluarga mengerti akan pentingnya ASI dan perhatian yang dibutuhkan bayi.
7. Memberikan konseling tentang perawatan bayi, pentingnya gizi / nutrisi untuk perkembangan bayinya, termasuk frekuensi menyusui kapanpun bayi ingin menyusu harus diberikan , Ibu dan keluarga mengerti akan penjelasan dan mengerti akan kebutuhan bayinya.
Tanggal 1 Februari 2008 pukul 16.15 WIB
S       :    Ibu mengatakan bayinya sudah mau menyusu dan merasa bayinya lebih baik.
O       :    P : 84x / menit                Bilirubin total              8,35
              R : 46x /meni                  direk 1,64
              S : 36,9oC                       indirek 6,71
              BB : 2850 gr
Terlihat kuning di bagian kulit muka, bayi sudah mau menyusu
A       :    NCB SMK usia 7 hari dengan ikterus patologis derajat I. Diagnosa dan masalah potensial tidak ada.
P       :
Memberikan hasil px pada ibu dan keluarga , ibu dan keluarga tampak tenang mengetahui kondisi bayinya membaik
Mengobservasi TTV, BB, asupan nutrisi , P : 84x /menit, R : 48x / menit S : 36,8oC. BB 2850 kg
Menganjurkan ibu untuk memberi ASI 2x3 jam sekali atau kapan pun bila bayi menginginkannya , ibu mengerti
Memberikan terapi Nymiko 4x 0,25 ml , sudash diberikan
Menanjurkan ibu untuk datang kontrol 1 minggu yagn akan datang atau bila ada tanda-tanda bahaya , ibu mengatakan akan datang tanggal 6 Februari 2008 atau bila ada tanda bahaya.
Menyiapkan kepulangan bayi ,bayi pulang tanggal Februari 2008 pukul 09.45 WIB.








BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan          
Asuhan kkebidanan pada hiperbilirubinemia merupakan penatalaksanaan yang memerlukan perhatian khusus sesuai dengan prosedur yang berlaku, apabila penangannya tidak tepat akan menimbulkan keadaan yang lebih parah, yang dapat menimbulkan kecacatan.
Prinsip penanganan pada bayi hiperbilirubinemia dilakukan dengan mempercepat konjugasi, mempermudah konjugasi, melakukan dekompensasi bilirubin, mengeluarkan bilirubin dengan transfusi tukar. Sebagai bidan dalam memberikan asuhan kebidanan untuk mengatasi akibat dari prosedur di atas yang dialami oleh klien.
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin serum total yang lebih dari 10 mg % pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada kulit, sclera dan orang lain. Keadaan ini mempunyai potensi meningkatkan kern iktrus, yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar biliriubin pada otak. Hiperbilirubin ini keadaan fisisologis (terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan).
Klien Ny. T  yang dirawat di ruang Anggrek . RSUD . JOMBANG  dengan mendapatkan fototerapi mengalami beberapa masalah dan memerlukan kerja sama yang baik dari tim kesehatan dengan keikutsertakan keluarga untuk mengatasi masalah tersebut dengan harapan mempercepat proses penyembuhan.
Saran
Bagi pembaca disarankan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan ikterus pada bayi, sehingga dapat dilakukan upaya-upaya yang bermanfaat untuk menanganinya secara efektif dan efisien.





DAFTAR PUSTAKA

1. Rachman. M & Dardjat, M. T. 1987. Buku saku Segi-segi Praktris Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. Kelompok minat Penulisan ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Salemba.

2. Abdoerrachman, H, dkk. 1981.Kegawatan Pada Anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas kedokteran. Universitas Indonesia.

3. Mansjoer, Arif M. 2005. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Jakarta. Media Aesculapius.

4. Maryunani,Anik. 2009.Asuhan Kegawatdaruratan dan Penyulit Pada Neonatus. Jakarta. TIM